Jumat, 28 Mei 2010

Selamat Jalan Ainun


Sesaat kita melupakan semua. Gegap gempita politik, beragam intrik, dan hingar bingar aneka pesta yang selalu tersaji di berbagai media. Semua mata dan telinga tertuju pada sosok yang telah tiada. Sosok bersahaja dengan keanggunannya, kelembutan, dan keibuannya. dr. Hasri Ainun Besari atau yang lebih dikenal dengan Ainun Habibie. Engkaulah Kartini sejati, Kau profil perempuan Indonesia utama. Karyamu di beragam bidang pendidikan dan sosial tidak melenakanmu pada fungsi Ibu bagi anak-anakmu dan Isteri bagi suamimu.
Kepergianmu merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini, karena sosok sepertimu hanya sedikit jumlahnya. Semoga pemberitaanmu dan sejarah hidupmu menjadi ilham dan pendorong bagi perempuan-perempuan Indonesia lainnya. Selamat jalan! Kami berdoa semoga Engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Sebuah tulisan menarik mengenai Ainun Habibie di muat di Harian Republika pada Senin, 24 Mei 2010 yang ditulis oleh Darmawan Sepriyossa. Berikut tulisan tersebut:
Mata Indah yang Memberi Cerah
Pergilah pahlawanku, jangan bimbang ragu 
Bersama doaku…
(“Sepasang Mata Bola” karya Ismail Marzuki)
Ibu Ainun, berbahagialah Anda. Tidak banyak istri yang berangkat dengan jemari tergenggam suami terkasih saat berpulang kepada Sang Kekasih, pencipta kita semua. Tak semua suami bisa berkata tegar, menemukan kesabaran setelah meredam jerit yang kalau melengking pun sebenarnya wajar. Setelah menekan rasa dalam-dalam di dada, kami semua mendengar, langsung atau tidak, suamimu berkata, “Kami sekeluarga rela melepasnya. Kami mencintai, tetapi Allah jauh lebih mencintainya.” Suaranya parau, tersendat karena kerap tercekat.
Kami tahu, cinta suamimu, juga cintamu kepadanya, tak akan pernah lekang meski tanah merah segera menghalang. Cinta itu terlalu besar, terlampau dalam untuk diuruk tanah segunduk. Cinta, yang sekian lama telah Anda berdua tunjukkan keagungannya, telah Anda sebar dan ajarkan kepada kami tentang betapa hangatnya.
Catatan para wartawan masih tergores jelas di berbagai laman. Usai sebuah seminar pada 2006, suamimu mencari-cari keberadaanmu. Ia bahkan menomorduakan aneka pertanyaan wartawan kepadanya saat itu. “Maafkan. Saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah berpisah dengannya.”  Ibu, posisi suamimu terlalu tinggi untuk melakukan hal itu demi publisitas, apalagi basa-basi. Dia mencarimu, mencari buah hatinya. Dan, begitu kami melihat ia menemukanmu, ah, rona bahagia segera menyemburat di wajahnya yang mulai menua. Ibu, perasaan apalagi yang dia punya untukmu bila namanya bukan cinta?
Cintalah yang membuat suamimu rela, bahkan ridha dengan kepergianmu. “Kami mencintainya, tetapi Allah jauh lebih mencintai.” Engkau pasti tersenyum dengan kalimat yang polos penuh kebersihan dan naifnya hati itu. Dia, suami Ibu, terbiasa lurus dalam berkata-kata. Dalam kalimatnya yang sederhana, ada sabar dan kesadaran akan terbatasnya sikap dan kata-kata untuk mengungkap besarnya cinta. Menyerahkan dirimu kepada kasih sayang dan rahmat Allah, tentu itulah setinggi-tingginya ungkapan cinta Bapak.
Sebab, bukankah sejak 1962, pada awal pernikahan itu, Anda berdua sudah menyadari bahwa cinta sejatinya adalah memberi, bukan mengambil. Menyerahkan, bukan merampas. Kesadaran itu yang membuatmu rela memberikan hidup buat dirinya, anak-anak, dan keluarga. Ibu rela tidak meneruskan karier sebagai dokter dan ikut bersamanya ke Jerman untuk hidup dalam kesederhanaan seorang mahasiswa tugas belajar.
Baktimu itulah, Ibu, yang membuat suamimu sejak awal pun tak segan menumpahkan kasih sayangnya. Bukankah jawaban yang diberikannya kepada kedua orang tuamu, yang menitipkan dirimu kepadanya sebelum memulai kehidupan keluarga muda di negeri orang pun, begitu tegasnya? “Tak akan. Kalau saya membuat sakit hati Ainun, itu sama dengan menyakiti hati saya sendiri,” kata suamimu, Habibie. Itu pernyataan tegas bahwa sejak awal pernikahan, Anda berdua memang telah saling mengikat jiwa.
Namun, memang bagaimana mungkin Anda berdua tidak menjadi satu jiwa dalam dua raga, Ibu? Kami tak sekadar percaya kata-kata saat suamimu menyatakan tanpa bosan-bosannya kepada media. Tentang dirimu yang baginya begitu multifungsi. “Istri saya itu benar-benar teman hidup, pendamping, kawan seperjuangan, kekasih, penasihat, dan pemberi ilham,” kata suamimu pada saat berbagai jabatan masih dipangku, dulu. Kami telah menyaksikannya.
Bukan di Jerman pada masa-masa awal, yang betapa pun memiriskan,  kesederhanaan keluargamu itu hanya terbayangkan lewat tulisan. Tetapi, di sini, pada masa-masa yang belum terlalu jauh lagi.
Pada masa-masa sulit seiring bergolaknya negeri, kepada siapa lagi perasaan, hati, dan pikiran Pak Habibie yang bergemuruh itu bisa berlabuh? Kami tahu, Ibu-lah dermaga, tempat presiden ketiga Indonesia itu bersandar, bertahan dari amuk badai. Tempat dia memberikan kepercayaan penuh manakala tak sedikit rakyat yang dicintainya justru menuduh.
Benar kata orang, pada setiap orang besar, ada seorang istri yeng hebat. Hebat yang tentu tak berarti saling mengungguli, melainkan saling meniup bara dalam dada, memperkuat tegaknya asa dalam jiwa. Tentang itu, tak ada yang akan menafikan fungsi yang telah Ibu jalankan.
Pada masa-masa menikmati kasih dan cinta itu, Ibu, kami mendengar ada lagu yang Anda berdua suka. “Sepasang Mata Bola”. Bukan sekali dua wartawan mencatat Ibu dan Bapak melantunkannya bersama. Bapak dengan gayanya yang selalu terkesan jenaka, Ibu yang merapikannya dengan suara yang ada. Kompak.
Kami tak begitu jelas apa yang membuat lagu itu begitu Ibu dan Pak Habibie suka, selain alunan nadanya. Mungkinkah ada momen-momen masa muda yang terekam lagu itu? Ataukah karena Ibu dan Pak Habibie pun selalu terasosiasi akan mata. Nama Ibu yang berarti mata yang indah, sementara bagi Bapak, mata adalah bagian tubuh yang wajar menjadi ikonnya.
Remang-remang cuaca,
Terkejut aku tiba-tiba…
Setelah Ibu pergi, kami tak ingin menerawang ke depan, apakah Pak Habibie masih akan mau menyanyikan lagu ini lagi.
Yang kami tahu, dalam kebersahajaan dan sikap jauh dari flamboyan, orang akan selalu mengaitkan Ibu dengan tingginya kepedulian. Tak banyak media menyebar publikasi, namun dalam keterbatasan waktu saat menjadi first lady, jiwa sosial Ibu sangatlah tinggi.   Ibu tak henti menebar kecerahan masa depan. Anak-anak miskin yang sebagian kini sudah jadi sarjana itu bisa berkata bagaimana yayasan beasiswa Orbit mengentaskan mereka. Para tunanetra seolah disiram harapan saat Ibu membentuk Bank Mata di negeri kita. Mengajak mereka turut menjadi saksi keindahan dunia.
Bahkan, setelah berpulang, Ibu masih mampu menebarkan harapan. “Bila hendak berbelasungkawa,” kata Ahmad Watik Pratiknya, direktur eksekutif The Habibie Center, “jangan kirimkan karangan bunga. Sumbanglah saja kedua yayasan yang ada.” Benar, itu akan memperpanjang harapan para tunanetra, membesarkan asa para tunas bangsa yang cerdas di desa-desa. Selain itu, kami pun yakin, bunga-bunga itu tak banyak berguna karena justru kaulah, Ibu, yang sebenarnya kusuma.
Sebelum semua media sontak terkejut pada Sabtu (22/5) itu, kabar terakhir di media massa tentang Ibu adalah undangan makan malam untuk para kru sinetron Cinta Fitri, beberapa waktu lalu. Lewat koran yang kami baca, sempat terasa betapa Ibu dan Pak Habibie mencintai dan berharap kepada para tunas muda. Saat itu, bahkan Anda berdua rela membuka cerita masa remaja.
“Pak Habibie dan Ibu bilang, kisah cinta Fitri dan Farel begitu mirip dengan kisah mereka berdua. Perjuangan Farel mendapatkan cinta, seperti perjuangan Pak Habibie menggapai cinta Ibu Ainun,” kata Teuku Wisnu, salah seorang pemeran utama cerita itu, kepada media. Ibu, bahkan kami kemudian tahu, Anda berdua sempat menitikkan air mata.
Tentu saja, kini matamu tak akan menitikkan air lagi, wahai mata yang indah. Biarkan kami yang melakukannya. Bukan karena tak rela akan kepergian. Tetapi, untuk menegaskan bahwa ada sebagian orang yang memang layak dikenang, dihormati dengan tangisan. Tangisan untuk keberhasilannya menunaikan amanah kehidupan bahwa setiap kita, sejatinya, hidup untuk kepentingan semua.
Selamat jalan, Ibu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar